🚧 Website Under Maintenance 🚧

Thursday, December 1, 2016

, ,

Umroh Mandiri, Nikmatnya Ibadah Berdua dengan Istri Part 6

Alhamdulillah sekarang masuk Part 6, buat teman-teman yang langsung masuk ke Part 6 ketika membaca blog ini, disarankan untuk membaca dari Part 1 dan seterusnya secara berurutan. Lanjuttt...

Oh iya, di Part 3, saya pernah menceritakan tentang (bi iznillal) bertemu dengan Pak Ali dan keluarga yang menjalankan umroh backpacker bersama keluarganya. Beliau ini berencana menghabiskan waktu 5 hari di madinah, sedang kami hanya menghabiskan waktu 4 hari di Madinah setelah itu kami berlepas ke Mekkah, saya dan istri sudah siap dengan kemungkinan bahwa kami akan membayar taksi yang cukup mahal agar kami dapat tiba di Mekah, Qadarallah, malamnya Pak Ali menghubungi saya via whatsapp dan mengatakan bahwa di tidak jadi 5 hari di Madinah, dan hanya 4 hari saja karena ada kesalahan perhitungan di hotel tempat dia menginap yang seharusnya hanya 4 hari tapi beliau (Pak Ali) menghitungnya 5 hari menginap. See.. Tak ada yang sulit ketika menyerahkan kesulitan kita kepada Allah setelah kita berusaha semaksimal mungkin, harusnya kami membayar mahal ongkos taksi sampai tiba di mekah, tapi mendengar ajakan Pak Ali untuk bersama-sama lagi menuju Mekah agar biaya bisa dishare, membuat biaya yang kami tanggung menjadi lebih ringan. Alhamdulillah.

Setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah, kami pun bersiap untuk melakukan inti dari perjalanan kami ini yaitu ber-umroh, saya pun mandi, memakai wangi-wangian di badan kemudian ber-ihrom, kemudian berangkat menuju Bir Ali tempat kami mengambil miqot. Sesampainya di Bir Ali, saya masih menyempatkan untuk mandi, berwudhu dan Sholat sunnat mutlaq di mesjid Bir Ali, setelah itu membaca niat kemudian bertalbiah, hati ini bergetar sekali mengingat fase ibadah inti ini telah dimulai dan segala larangan umroh telah diberlakukan. Saran saya, perbanyaklah bertalbiah bukan ber-selfie ria, hehe. 

Kamipun berlepas dari Bir Ali menuju Mekah Al Mukarromah, tak henti-hentinya talbiah diucapkan sampai-sampai saya pun tertidur, hehe.. Maklum saja perjalanan dari Madinah ke Mekah bisa memakan waktu hingga 6 jam, oh yah kali ini kami menggunakan mobil Toyota Innova, taksi resmi di Saudi yang kami charter untuk keberangkatan ke Mekah, biayanya kalau saya ga salah ingat 800SAR, saya dan istri patungan total 300SAR ke Pak Ali. Perjalanan ke Mekah kembali menggunakan jalan tol yang (saya juga bingung, kok bisa) kecepatan Innova ini bisa mencapai 140km/jam, padahal mobil terisi penuh dengan kami dan barang-barang kami. Sesekali kami berhenti untuk membuang hajat dan sholat Zuhur di jamak dengan Ashar dan pemberhentian yang agak lama adalah ketika kami melaksanakan sholat Maghrib.

IMG 5632

Pemandangan Saat Perjalanan Ke Mekah, Terbenamnya Matahari.

Saya lupa persisnya kami berhenti dimana, yang saya ingat banyak jama’ah umroh yang berhenti disitu, rata-rata dari mereka semua berpakaian ihrom. setelah melaksanakan sholat Maghrib di jamak dengan sholat Isya, saya dan istri menyempatkan diri belanja snack-snack dan kembali menunggu keluarga Pak Ali selesai sholat, saat saya menuju mobil Pak Ali memanggil saya, ternyata Pak Ali ini sedang berbicara dengan penjual kacang-kacang arab, kurma dan juga madu. Pak Ali menawarkan saya untuk membeli jintan hitam, jujur saja baru kali ini saya melihat jintan hitam yang sebenarnya, selama ini kan hanya tau jintan hitam yang sudah di ekstrak yang sering juga kita sebut habbatusaudah, obat dari segala penyakit, yang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah sebutkan dalam hadist nya. Beliau juga menawarkan saya untuk membeli Madu asli dari Yaman, saya tertarik untuk membelinya dan berniat untuk memberikannya ke Bapak di rumah.

Memang sangat melelahkan sekali perjalanan ini, saya sangat tidak bisa membayangkan betapa dulu Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta sahabat, harus menggunakan onta dan berjalan kaki dari Madinah menuju Mekah dengan suasana panas, sementara saya yang hanya tinggal duduk dan dilengkapi dengan penyejuk, masih terasa sangat melelahkan, Masyaa Allah.

IMG 5634

Pemeriksaan Identitas Ketika Masuk Ke Mekah

IMG 5675

Cakep ya? hehe

Akhirnya tibalah kami di Mekah, wah berdebar hati saya ketika akhirnya saya melihat jam yang sudah menjadi ciri khas kota Mekah berdiri tinggi menyinari angkasa dengan sinar lasernya. Selama ini hanya bisa melihat di TV tapi kali ini bisa melihat langsung, kemudian kami menuju ke Hotel nya Pak Ali, disana saya kembali bertemu dengan Pak Mukhlis, dan setelah pamitan pak sopir mengantarkan saya ke hotel di Mekah (saya lupa nama hotelnya, nanti kalau saya ingat saya update yah.. hehe). Kami diterima dengan baik oleh Showkat, pria keturunan India yang mengurusi akomodasi kami selama kami di Mekah. Beliau menyerahkan kunci dan kami (saya dan istri) pun masuk kedalam kamar hotel dan sebelum kami menuju masjidil haram, saya menyempatkan diri untuk mandi, sekedar mengilangkan keringat yang menempel di badan, walaupun tanpa sabun, tapi lumayan segar juga, setelah itu saya bersama istri melakukan umroh dimulai dari Tawaf, saat tawaf ingin sekali rasanya saya dan istri bisa menyentuh bahkan mencium hazaratul aswad, tapi apa daya, ramainya luar biasa, jika dipaksakan hanya membuat jamaah lain tersakiti, kemudian setelah melakukan tawaf dilanjutkan dengan sholat sunnat di belakang makam Ibrahim, dilanjut meneguk segarnya air zamzam, kemudian dilanjutkan dengan sa’i dan diakhiri dengan tahallul, dan setelah itu berakhirlah semua larangan-larangan ketika berihrom.

 IMG 5636

Saat Selesai Melaksanakan Tawaf


IMG 5637

Susana Di Tempat Sa'i


Ibadah umroh adalah ibadah yang benar-benar membutuhkan kesiapan fisik, saya rasanya setelah selesai melakukan umroh, merasa lega karena ibadah umroh sudah selesai namun rasa capek yang saya rasa memaksa tubuh untuk segera diistirahatkan. saya pun mengistirahatkan badan dan memulihkan tenaga untuk keesokan harinya

Selesai sudah Part 6 ini, di Part 7 akan saya ceritakan mengenai jalan-jalan kami ke Mina, Arafah, Musdalifah, Jabal Rahmah, Museum Ka’bah dan juga Mesjid Tan’im.

lanjut part 7

Publisher: Fadlan Sinaga - 3:12 AM

Saturday, October 1, 2016

, ,

Umroh Mandiri, Nikmatnya Ibadah Berdua dengan Istri Part 5

IMG 5509

 

Alhamdulillah udah masuk Part 5 aja, buat teman-teman yang langsung masuk ke Part 5 ketika membaca blog ini, disarankan untuk membaca dari Part 1 dan seterusnya secara berurutan, check it out..

Seperti yang sudah diceritakan di ending Part 4, saya telah membuat janji kepada sahabat dan guru saya, beliau adalah Hanief Subhi, Mahasiswa Universitas Islam Madinah (Al Jami’ah Al Islamiyyah bil Madinah Al Munawaroh), beliau ini mendapatkan beasiswa full di kampus yang terkenal telah menelurkan para ulama dan ahli dalam bidangnya, rektornya dahulu Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Rahimahullah) yang juga Mufti kerajaan Saudi, dan banyak pula jebolan-jebolannya yang membanggakan tanah air, sebut Ia Ustadz Firanda yang mengisi kajian rutin di Mesjdi Nabawi bersama Ustadz Abdullah Roy, dll yang kini telah kembali ke tanah air menebar dakwah.

Beliau ternyata sudah menunggu kami sebelum jam 10 pagi, sambil berjemur di pelataran Mesjid Nabawi, “cuaca di Madinah di penghujung tahun memang dingin mas” sambutnya. Setelah selesai berkenalan, beliau mengajak saya menuju museum Al Qur’an yang ternyata tempatnya tepat disebelah selatan Mesjdi Nabawi, dan tidak dikenakan biaya masuk untuk melihat dan mengetahui sejarah Al Qur’an di museum tersebut, di dalam kita bisa melihat Al Qur’an yang berusia lebih 100 tahun ditulis dan disusun di kulit rusa, tulisannya sudah tampak pudar tapi masih terjaga dengan baik. Ada juga Al Qur’an terkecil di dunia, yang membacanya saja harus menggunakan kaca pembesar dan tak lupa pula Al Qur’an terbesar. Dan saya sangat tertarik adanya Al Qur’an yang ditulis dijaman sahabat, uniknya selain Al Qur’an tersebut full tulisan tangan yang sangat rapi dan dapat dibaca dengan baik, tidak lupa di sertakan ornamen frame yang sangat detil dan rumit diseluruh lembar Al Qur’an tersebut. MasyaAllah luar biasa sekali, dan ada juga Al Qur’an yang di tulis di batu.

IMG 5501

Al Qur’an terbesar yang ditulis dengan tangan

IMG 5503

Koleksi Al Qur’an di Museum ini

Kemudian setelah puas mengungjungi museum Al Qur’an, kami pun mengunjungi Musen Rasulullah Salallahu Wa ‘Alaihi Wa Sallam, sayang sekali saat disini saya tidak punya photo-photonya, karena keasyikan sendiri mengikuti sejarah singkat, bagaimana rumah Rasul ketika di rekonstruksi dalam bentuk 3D, seolah-olah kita berada di rumah Rasul yang sangat sederhana tersebut, dan meneteskan air mata ketika melihat video sejarah singkat kehidupan Rasul.

Setelah mengungjungi museum Rasul, kami pun berniat untuk mengunjungi Museum Asma’ul Husna, tapi adzan dzuhur sudah berkumandang dengan indah di Mesjid Rasul ini, sehingga kami skip dan Mas Hanief menyarankan untuk mendatangi Museum tersebut keesokan harinya. Setelah itu kami bergegas ke Mesjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Setelah selesai sholat dan meminum air zam zam yang selalu terisi penuh di dispenser-dispenser di dalam Mesjid, kami pun berniat mengunjungi Mesjid Quba, mesjid yang pertama kali di bangun Rasul. Mas Hanief menyakan pada kami, “Apakah masih ada wudhu? (wudhu belum batal”, dan kami mengangguk bahwa kami masih berwudhu, beliau kemudian menjelaskan keutamaan dalam mengunjungi mesjid Quba sambil membacakan hadist, “Barang siapa yang bersuci di rumahnya, kemudian pergi ke Mesjid Quba, lalu sholat di dalam mesjid Quba, pahala baginya sebesar pahala umroh (HR. Tirmidzi)” tanpa menghapus kewajiban untuk ber umroh, jelasnya.

Nah disini uniknya, mungkin bagi jama’ah umroh yang telah dikoordinir travel tidak merasakan hal ini, kata Mas Hanief, biasanya setelah selesai sholat Dzuhur, di luar pintu bagian barat Mesjid Nabawi, akan ada semacam angkot yang kernetnya akan teriak-teriak “Ziarah! Ziarah! Ziarah!” Tertnyata ini adalah moda transportasi murah yang akan mengantarkan kita ke 3 tempat ziarah di sekitar Madinah, Mesjid Quba, Mesjid Qiblatain dan Jabal Uhud dan akan kembali lagi ke Mesjid Nabawi, biayanya hanya 10SAR per orang, cukup murah.

IMG 5504

Suasana di dalam Mesjid Quba

IMG 5512

Mas Hanief merangkap juru photo jadinya :) ini bertempat di pintu masuk Mesjid Quba untuk laki-laki

Kemudian setelah dari Mesjid Quba yang mana sudah ditungguin sama pak supirnya, karena kelamaan berfoto-foto, dilanjutkan ke Mesjid Qiblatain, dahulu arah qiblat umat Islam adalah Baitul Maqdis (Masjid Al Aqhso) di Palestina, sampai turunnya wahyu kepada Rasulullah seperti tertulis di Surah Al Baqarah ayat 144, kemudian arah Qiblat berganti ke arah Masjid Al Haram (Ka’bah). Ketika didalamnya kita akan melihat ada 2 Mihrab, satu menghadap ke Palestine, satu menghadap ke Ka’bah, untuk mihrab yang menghadap ke Ka’bah sudah di pugar sedemikian rupa agar jama’ah tidak menghadap ke arah Palestina, jadi hanya tinggal penanda saja. Inilah sebabnya mesjid ini dinamakan Mesjid Qiblatain yang artinya mesjid dengan 2 arah Qiblat.

IMG 5515

Arah Qiblat dahulu yang mengarah ke Mesjid Al Aqhso di Palestina

IMG 5519

Arah Qiblat menuju Ka’bah yang seluruh umat Islam sekarang mengarahkan sholatnya

IMG 5523

Bagian luar Mesjid dengan adanya menara kembar

Sopir sudah menerikkan. ‘Ajalwa! ‘Ajalwa! yang artinya ayo cepat, ayo cepat. Maaf pak sopir.. namanya juga first comer. Mungkin kami disuruh bergegas karena masih ada tujuan terakhir dan pak sopir ga mau terpotong masuknya waktu sholat ashar. Kemudian kami menuju tempat dimakamkannya para tentara perang saat perang Uhud, Perang Uhud ini adalah perang yang dipimpin oleh Rasulullah, dinamakan perang uhud, karena perang ini berlangsung di bukit Uhud, perang ini melawan Kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang, sementara tentara perang muslim saat itu berjumlah 300 orang, dengan berbagai taktik perang dan strategi yang mumpuni, walaupun tentara islam berjumlah lebih sedikit nambun berhasil memukul mundur tentara Kafir Quraisy, namun karena tidak mau mengikuti perintah Rasulullah agar para pasukan pemanah tidak meninggalkan posisinya dalam kondisi apapun sebelum utusan Rasulullah datang memberikan kabar, yang melihat kemenangan sudah ditangan umat Islam dan mereka berlari menuruni bukit untuk mengambil harta rampasan perang. Melihat kondisi ini, Khalid bin Walid yang saat itu berada di pihak kafir Quraisy mengambil kesempatan untuk menyerang kaum muslimin, yang berakhir dengan banyaknya tentara Islam yang mati syahid, dan akhirnya umat Islam menanggung kekalahan dalam peperangan ini. Turut syahid Hamzah, paman Rasulullah yang ditombak secara diam-diam oleh Washyi, budak Jubair bin Muth’im.

IMG 5857

Photo berlatar belakang kuburan tentara yang mati syahid dalam peperangan Uhud

IMG 5859

Photo berlatang belakang bukit Uhud

Sebagai bagian dari servis, yang saya tidak tahu apakah itu dari bapak angkotnya atau sengaja dibagikan saat kami menjiarahi bukit uhud ini, kami mendapatkan free air mineral dingin, Alhamdulillah.. Suasana saat itu memang terik tapi anginnya tetap saja semriwing. Saat dikuburan para mujahidin tersebut tertulis pada plang biru dalam berbagai bahas, tata cara berziarah sesuai sunnah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Usailah perjalanan kami berziarah disekitar Madinah ini, dan kami kembali menuju Mesjid Nabawi

Sesampainya di Mesjid Nabawi, kami menunggu sholat Ashar sambil menikmati Sawarma yang kami beli di Bakso si Doel, ya warung Bakso si Doel ini adalah warung yang menyediakan masakan Indonesia, mulai dari rendang, gulai dan juga trade mark nya sendiri, bakso! Usai menikmati sawarma dan mendengar cerita bagaiman Mas Hanief bisa sampai mendapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Islam Madinah, Selepas sholat Ashar, Mas Hanief mengajak kami untuk mengunjungi Museum Kereta Api, atau sering disebut juga dengan museum Turki.

Untuk menuju ke museum ini, mas Hanief memberhentikan mobil pribadi dan bernegoisasi harga untuk menghantarkan kami menuju museum kereta api ini, setelah didalam mobil, mas Hanief menjelaskan, semua mobil pribadi bisa menjadi taxi asalkan harga cocok, hmm.. kalo di tanah air, Uber udah di uber-uber sama taksi resmi, hehe.. Mungkin konsep bersyukur sudah tertanam baik di masyarakat di Madinah, bahwa Allah tidak akan salah memberika rezekinya kepada makhluknya.

Sesampainya di museum yang dikenal dengan Medina Al Munawara Museum and Al Hijz Railway Museum, kami tidak melihat banyak orang disana, dan hanya kami yang baru datang, penjaga juga belum terlihat, dan memang kami datang dimana museum masih jam tutup (semua fasilitas di Saudi akan ditutup ketika masuk waktu sholat), sebelum masuk kedalam museum kereta api, kami pun masuk ke dalam museum khusus yang menjelaskan sejarah tentang adanya stasiun kereta api ini, yang menyambungkan kota Madinah ke Damaskus di Syria. Stasiun kereta api ini dibangun dimasa Turki Usmani, bagaimana kondisi Madinah saat dipimpin oleh Rasulullah, saat pemerintahan Turki Usmani dan juga saat pemerintahan sekarang oleh kerajaan Saud. Kami pun melihat beberapa peninggalan kaum Tsamud, kaumnya Nabi Saleh Alaihissalam. MasyaAllah ketika membayangkan jaman dahulu, kaum Tsamud yang terkenal adalah pandai batu, memahan batuan bukit menjadi rumah tempat tinggal mereka, dan kaum Tsamud ini terkenal juga sebagai pembuat berbagai macam pernak pernik keramik yang kalau dilihat, teknologi mereke sebnarnya sudah sangat modern. Kaum Tsamud sendiri telah di musnahkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala karena tidak mau mengikuti perintah Allah.

IMG 5526

Batuan-batuan yang ditemukan di Madinah

IMG 5527

Pernak-pernik yang dibuat oleh kaum Tsamud

IMG 5529

Sejarah Madinah yang dulunya bernama Yathrib

Setelah usai berkeliling musem, kami pun dipersilakan masuk ke stasiun kereta api, dan kesan pertama ketika melihat stasiun ini adalah seperti tidak berada di Negara Arab, kami seperti diajak menjelajah waktu dan jarak mengunjungi Eropa, ya design di stasiun ini dipengaruhi oleh negara Turkey yang sempat memerintah di Madinah. Tak menunggu waktu lama, kami pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berfoto-foto, kami merasa bersyukur, dijelaskan oleh Mas Hanief bahwa sedikit dari jama’ah Indonesia yang datang ke tempat ini, karena kebanyakan tidak mengetahuinya, dan memang benar, satu jam kami berkeliling di stasiun ini, kami belum menemukan adanya orang yang datang, dan tak beberapa lama kemudian datanglah jama’ah asal Turkey, ya bagi mereka tempat ini sangat istimewa, sebagai napak tilas pemerintahan Turki Usmani yang pernah berkuasa di Madina.

IMG 5538

Bagian dalam stasiun

IMG 5541

Foto berlatar belakang gerbong kereta api, pohon dibelakang itu pohon kurma yah! bukan sawit :)

IMG 5552

Edisi Post Wed, thanks Mas Hanief! nice angle!

IMG 5561

Gerbong kereta yang beralih fungsi menjadi restauran, yang restauran tersebut juga sudah tidak aktif lagi :(

IMG 5572

Nungguin siapa, Neng?

IMG 5581

Workshop kereta yang terkunci, photo ini saya ambil dari lubang dipintu dan ternyata di dalamnya, super WOW!

IMG 5595

Berasa lagi ga di Arab nih..

IMG 5597

suasana didalam workshop lainnya, yang saya ambil melalui jendela

IMG 5598

Panorama sekitar stasiun kereta

Puas berjalan-jalan didalam kami pun meninggalkan museum yang ciamik ini, dan saat keluar ternyata sudah banyak orang-orang tua dari Turkey yang akan masuk ke museum ini, mereka adalah orang-orang yang tak melupakan sejarah.

IMG 5607

Eski adamlar edilir, selamat datang orang tua.

Kamipun kembali ke Nabawi dengan memilih berjalan kaki, dan semakin takjub karena untuk menyebrang jalan dibuatkan terowongan bawah tanah, warbiasah pemerintah Saudi ini. Kemudian karena suhu sudah semakin dingin ditandai dengan mulai tenggelamnya matahari, mas Hanief pun memesankan kami Arabic Tea, yang kini menjadi minuman favorit saya, teh+susu+daun mint. Cocok sekali untuk menghangatkan tubuh. Dijalan pulang kami juga sempat memfoto mesjdi Abu Bakar.

IMG 5610

Mesjd Abu Bakar yang tak jauh dari Mesjid Nabawi

Setelah menunaikan sholat Maghrib di mesjid Nabawi, mas Hanief pun mentraktir kami makan nasi bukhori, agak bingung padahal kami sudah memaksa agar kami saja yang traktir, padahal beliau sampai meluangkan waktunya free untuk kami yang saya tahu ternyata besok beliau ada ujian, wah luar biasa sekali mas Hanief ini, beliau bercerita, ibunya berpesan agar senantiasa membantu jama’ah Indonesia yang berkunjung ke Madinah, urusan traktir ini sudah menjadi janji pada dirinya sendiri, kalau ketemu Hanief, wajib di traktir! Mas Hanief ini golongan manusia yang langka, Kamipun memaksa agar beliau menerima pemberian rendang dari kami, setidaknya beliau terobati kerinduannya dengan masakan Indonesia, semoga suka ya Mas! Pikir kami. Sampai sekarang pun saya masih berhubungan dengan beliau, yang saya ketahui beliau telah menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke tanah air.

Usai sudah Part 5, di part 6, saya akan berbagi cerita tentang persiapan berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah Umroh. Pantengin terus yah!

 

lanjut part 6

Publisher: Fadlan Sinaga - 4:10 PM
, ,

Umroh Mandiri, Nikmatnya Ibadah Berdua dengan Istri Part 4

GOPR4447

 

Setelah hampir setahun, akhirnya punya semangat lagi untuk melanjutkan cerita umroh kami berdua dalam blog ini, setelah banyaknya pembaca yang penasaran dengan kelanjutan cerita ini. Check it out..

Subuh saat itu di Madinah sangatlah dingin, kalau melihat dari temperatur yang ada pada jam tangan saya, suhu saat itu sekitar 10 dearajat celcius, MasyaAllah,, tapi tidak menyurutkan para jamaah untuk menghadiri sholat subuh berjamaah di Mesjid Nabawi. Subuh itu sangat syahdu sekali, kami keluar hotel menggunakan jaket tebal untuk melawan hawa dingin, tapi setelah memasuki Mesjid Nabawi, Alhamdulillah terasa hangat, selain mungkin adanya penghangat yang disediakan di dalam Mesjid, juga berjubelnya jamaah saat itu, membuat suasana menjadi lebih hangat.

Bagi teman-teman yang belum pernah ber-umroh, Mesjid Nabawi akan mengumandangkan adzan 1 jam sebelum masuk sholat subuh, ini mungkin untuk membangunkan para manusia yang tengah lelap tertidur untuk bersiap ke Mesjid, menunaikan sholat subuh berjamaah. 

Setelah melaksanakan sholat subuh, saya sempat berkeliling untuk melihat aktivitas-aktivitas setelah sholat subuh di Mesjid Nabawi, ada yang membaca Al Qur’an, ada yang menawarkan diri untuk mengajarkan cara membaca Al Qur’an yang benar, ada kajian-kajian, khusus untuk kajian ini, saya tidak menemukan adanya kajian yang biasa di asuh oleh Ustadz Firanda, mungkin karena pada saat saya berumroh di bulan November tersebut, belum banyak jama’ah Indonesia yang datang.

GOPR4436

suasana di sekitar Mesjid Nabawi ba’da sholat Subuh

Setelah menjemput istri di tempat kami berjanjian untuk bertemu, kemudian kami berdua menyempatkan diri untuk melihat-lihat suasana diluar Mesjid Nabawi, sangat syahdu sekali, Masya Allah, ini yang membuat hati sangat merindu untuk kembali ke Madinah. Walaupun suhu diluar tersebut sangat dingin, kami sangat menikmati suasana tersebut berdua. Alhamdulillah

GOPR4445

Suasana di pelataran Mesjid Nabawi

GOPR4450

Payung ini sengaja di bentangkan, untuk menghalau angin agar jamaah tidak terlalu kedinginan

Setelah puas berkeliling, saya dan istri kembali ke hotel untuk menikmati santap pagi di hotel dan sarapan roti dan buah yang kami beli di mini market sekitar hotel.

Setelah agak pagi kami kembali lagi Mesjdi Nabawi untuk melaksanakan ibadah sunnah, dan setelah itu kembali berkeliling-keliling lagi di sekitar mesjid, untuk menikmati udara pagi dan menghangatkan tubuh, karena cahaya matahari saat itu Alhamdulillah membuat udara sedikit lebih hangat

GOPR4459

Menikmati hangatnya mentari di pelataran Mesjid Nabawi, Hai bapak dibelakang :)

 IMG 5457

Spot-spot cantik di sekitar Mesjid Nabawi

IMG 5458

Jepret lagi

IMG 5478

Istri mengejar-ngejar burung merpati, berasa di Eropa rasa Saudi

Sisa di hari ketiga ini kebanyakan kami habiskan di Mesjid Nabawi mengikuti sholat berjama’ah di sana, Pada malamnya sebelum tidur saya pun sempat berdiskusi dengan istri, apa lagi yang akan dilakukan besok, setidaknya bisa ber ziarah ke tempat-tempat lain, menapak tilas kehidupan di jaman Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi kita berdua bingung mau kemana, hehe.. Tidak seperti jamaah umroh yang menggunakan travel, yang agenda-agendanya sudah ada yang mengatur, disini lah tantangan yang dihadapi oleh para backpacker umroh, jujur saja, tidak banyak blog yang menyajikan itinerary2 kemana dan bagaimana transportasi nya ketika kita ingin ke suatu tempat, karena kebanyakan untuk hal ini sudah diatur dan disediakan oleh travel umroh. Setelah berdiskusi akhirnya kami menghubungi Kak Butet, dan Alhamdulillah beliau memberikan nomor kontak mahasiswa Universitas Islam Madinah yang tersohor itu, kemudian saya menghubungi beliau, Hanief namanya, dan beliau bersedia menemani kami untuk berjalan-jalan (berjiarah) di sekitar Madinah esok hari dan janjian di Mesjid Nabawi saya lupa tepatnya di gate apa kami berjanjian dan pukul 10 pagi. Ikuti kisah selanjutnya.. :)

lanjut ke part 5

Publisher: Fadlan Sinaga - 1:12 AM

Saturday, September 24, 2016

, , , ,

Install MacOS Sierra Menggunakan Flashdisk

MacOS Sierra Wallpaper Macbook Wallpaper 1024x640

Beberapa pengguna Macbook Air, Macbook Pro, Macbook, Mac Pro dan iMac pasti telah melihat berupa update OS ketika membuka App Store, ya benar update OS terbaru itu bernama MacOS Sierra.

Jika selama ini Apple selalu menamai operating systemnya dengan OS X, seperti OS X Leopard, OS X El Capitan, maka untuk Sierra ini Apple menyebutnya MacOS Sierra, lebih simple dan lebih mudah untuk di ucapkan.

Kali ini saya mencoba untuk share cara update ke MacOS Sierra dengan menggunakan bootable USB, mungkin teman-teman akan bertanya kenapa harus via bootable USB? Bukannya tinggal download dari AppStore kemudian tinggal install, beres deh.. Ya tidak salah juga pendapat tersebut, tapi dengan bootable USB ini, kita bisa meng-install ke banyak device tanpa harus men-download lagi. Ini penting bagi para fakir quota :)

Ada dua cara dalam instalasi bootable usb ini, pertama dengan menggunakan terminal dan kedua menggunakan applikasi pihak ketiga. Saya lebih memilih dengan cara kedua, karena cara pertama selain ribet juga jelimet, karena harus memasukkan perintah-perintah ke dalam command. Jadi saya hanya menjelaskan cara kedua saja ya!

Aplikasi yang dapat membuat usb ini menjadi bootable usb ini ada dua yang saya suka, yaitu Disk Creator dan DiskMaker X. Keduanya sama-sama bekerja dengan baik.

Sebelum memulai instalasi, pastikan dahulu kalau device teman-teman termasuk yang kebagian update MacOS Sierra ini, berikut list yang compatible:

  • MacBook Pro (2010 and later)
  • MacBook Air (2010 and later)
  • Mac Mini (2010 and later)
  • Mac Pro (2010 and later)
  • MacBook (Late 2009 and later)
  • iMac (Late 2009 and later)

Nah kalau sudah termasuk dalam compatible list diatas, mari dilanjutkan langkah berikutnya. Masuk ke App Store atau dapat langsung melalui link ini Macossierra

Tekan "Get" pada macOS Sierra, dan tunggu sampe downloadnya selesai, file yang didownload adalah sekitar 4.7GB. Ketika selesai, otomatis layar untuk meng-install Sierra tersebut akan keluar, jangan klik lanjutkan, keluarlah dari layar instalasi tersebut. Penting untuk diketahui, sekali teman-teman menekan instalasi dilayar tersebut, maka file mentah MacOS Sierra tersebut akan hilang, sehingga jika ingin membuat USB bootable MacOS tersebut, makan teman-teman harus men-download ulang, jadi jangan sampai salah yah!

Download aplikasi DiskMaker X (dalam hal ini saya menggunakan aplikasi DiskMaker X), siapkan flashdisk minimum 8GB, atau harddisk juga bisa.

Buka aplikasi DiskMaker X 6 Screen Shot 2016 09 25 at 7 21 13 AM Kemudian pilih "Use this copy" jika file mentahan OS tersimpan di folder /Applications Screen Shot 2016 09 25 at 7 21 22 AM Pilih mau pakai flashdisk dengan minimum 8GB, atau harddisk yang punya lebih dari 1 partisi, jadi hanya volume partisi yang dipilih saja yang akan di erase dan dibuat bootable, saya memakai "An 8 GB USB thumb drive" Screen Shot 2016 09 25 at 7 23 23 AM Pilih nama flashdisk atau harddisk yang akan dibuat bootable Screen Shot 2016 09 25 at 7 28 54 AM Peringatan muncul yang memberitahu, bahwa semua data akan di hapus. Screen Shot 2016 09 25 at 7 29 09 AM Kemudian pemberitahuan bahwa langkah selanjutnya ada lah memasukkan log in administrator Screen Shot 2016 09 25 at 7 29 18 AM Log in Administrator Screen Shot 2016 09 25 at 7 29 44 AM Tinggal tunggu deh, informasi complete akan di munculkan di kolom notifications Screen Shot 2016 09 25 at 7 31 51 AM

Selesai! Screen Shot 2016 09 25 at 7 45 49 AM

Nah, sekarang flashdisk tersebut telah teinstall bootable MacOS Sierra, untuk instalasi, restart mac kalian, kemudian sebelum terdengan suara bang, tahan tombol option (alt), kemudian pilih boot disk MacOS Sierra, dan tinggal next next next, Mac kamu telah terinstall MacOS Sierra!

Jadi untuk meng-install ke device lain, teman-teman tidak perlu download lagi, tinggal gunakan kembali flashdisk tersebut. Mudah kan?

Publisher: Fadlan Sinaga - 3:55 PM

Saturday, January 16, 2016

, ,

Umroh Mandiri, Nikmatnya Ibadah Berdua dengan Istri Part 3

Assalamu'alaikum, bagi pembaca yang langsung masuk ke Part ini, maka dianjurkan untuk membaca dulu part ini kemudian Part 1 dilanjutkan dengan Part 2. Bagi yang sudah membaca kesemuanya, mari di lanjuttt...

Di Part 2 (part sebelumnya), dikisahkan tentang bagaimana tantangan-tantangan yang dihadapi bahkan detik-detik sebelum keberangkatan, mudah-mudahan buat pembaca yang berniat umroh mandiri seperti kami, dimudahkan dan ga harus merasakan apa yang kami rasakan.

Alhamdulillah, tidak ada hambatan berarti, penerbangan dari Kuala Namo International Airport menuju Kuala Lumpur International Airport 2 hanya kami lalui 45 menit, sesampainya di KLIA2, kami menuju imigrasi dan mengambil bagasi. Mungkin pembaca akan bertanya, kan ini fly thru, ngapain ambil bagasi dan cek imigrasi? Ya karena ada masalah penerbangan kami seperti yang diceritakan di Part 2, jadinya penerbangan kami di pecah. Seperti biasa antri di imigrasi di KLIA2 yang panjang dilewati tanpa masalah, kemudian ambil bagasi lalu cari makan deh.. Saya agak kaget, karena dulunya waktu transit via KLIA2 saya masih bisa menggunakan kartu kredit untuk membayar makanan, nah sekarang ternyata mereka hanya menerima cash, saya ga ada duit ringgit, dan kebetulan cari-cari money changer di terminal kedatangan, kok ga ada yah? Mungkin sayanya yang ga ngelihat, akhirnya tarik tunai di atm, dan dipilihlah Burger King sebagai tempat lunch kami berdua (setelah berputar-putar memilih tempat makan), Setelah selesai makan, kemudian kami menuju counter check-in, counter check-in khusus untuk umroh ada di deretan U kalo saya tidak salah ingat. Dan terkagetlah kami saat check-in tersebut yang antri bukanlah manusia, melainkan koper, maklum jama'ah tersebut berangkat rombongan, ada 3 rombongan lebih jama'ah yang kami lihat berdasarkan warna kopernya. Kebetulan saat itu sistem Air Asia sedang down, sehingga kami diminta menunggu, ketika ready saya check-in ke bagian yang disiapkan untuk non rombongan, petugas counternya sempat menanyakan apakah kami berangkat umroh atau tidak? Dan sempat merasa aneh karena tahu kalau kami hanya berangkat berdua tidak rombongan. Setelah proses check-in selesai kemudian masuk imigrasi, stempel, dan menuju ruang tunggu, ternyata kami orang yang pertama datang, kemudian kami menunaikan ibadah dzuhur di jama' dengan sholat ashar, setelah selesai sholat langsung kembali ke ruang tunggu dan masuk ke dalam pesawat, ketika masuk ke pesawat, ternyata kami juga orang pertama yang masuk pesawat, kemudian cek tempat duduk yang sudah di pesankan oleh bagian ground staff di Medan, dan Alhamdulillah kami dapat di bagian Hot Seat, hehe.. nikmat yang datang ketika bisa melewati cobaan dengan sabar pikirku, kami duduk di dekat pintu emergency, dari 3 tempat duduk, hanya diisi oleh kami berdua, jadi kami lebih leluasa. Setelah semua penumpang masuk kedalam pesawat dan pilot di bagian kemudi mengatakan "flight attendant, all door closed, slide bar armed and cross checked" kemudian pesawat push back lalu bersiap untuk lepas landas.

Walaupun hampir seluruh penumpang di pesawat dapat dipastikan adalah muslim yang bertujuan umroh, tapi ada yang tampak beda khusus di pramugari, jika di penerbangan komersil lainnya mereka menggunakan rok, di penerbangan umroh ini mereka menggunakan celana panjang walaupun tidak menggunakan hijab, mungkin ada baiknya kali yah khusus penerbangan umroh pramugari menggunakan hijab. Penerbangan menuju Jeddah, King Abdul Aziz International Airport memakan waktu sekitar 9 jam, ketika masuk waktu sholat ashar terlihat beberapa jamaah asal Malaysia melakukan sholat secara sempurna (tidak duduk, melainkan berdiri seperti biasa) di bagian pintu emergency, karena memang di bagian itu cukup luas, ada yang unik dan mungkin bisa dipraktekkan oleh pembaca, jama'ah Malaysia di setiap tas selempangnya membawa wudhu spray, ya saya sendiri jujur baru tahu tentang alat ini, tekonologi sederhana sebenarnya tapi ini lah yang dianjurkan ketimbang melakukan tayammum, selama masih ada air, walaupun sedikit dianjurkan untuk wudhu dengan menggunakan air, wudhu spray ini seperti botol parfum atau deodoran yang ketika di pencet keluar buliran air, photonya seperti dibawah, saya ambil dari google.

1409463349 944782 z
Wudhu Spray

Cara pakainya tinggal di semprotkan saja dibagian wajib untuk berwudhu, pembaca juga bisa liat bagaimana cara menggunakannya di youtube. Saya merekomendasikan untuk membawa barang ini ketika melakukan perjalanan jauh, kalau airnya habis tinggal di re-fill, praktis dan simple.

Tiba waktunya pembagian makanan, walaupun makanan yang dipesan datangnya berbeda, tapi kami maklum, setelah kenyang kemudian saya membaca buku, istri main game di handphone, kemudian tidur, bangun dan membaca qur'an, dan tidur lagi, ya itu saja yang bisa dilakukan sepanjang 9 jam, hal yang sama juga dilakukan oleh jama'ah lain. Tibalah waktu makan yang kedua, hehe disini agak unik juga, karena kami hanya memesan makan satu kali saja, ya wajar juga karena ini penerbangan sembilan jam, makannya juga dua kali, kami sebenarnya ga lapar-lapar sekali, akhirnya memesan mie instant, dan setelah kenyang, tertidur lagi. Kemudian pilot mengumumkan bahwa beberapa saat lagi akan masuk ke tempat mengambil miqot, jadi buat jama'ah yang langsung menuju mekah harus bersiap-siap memakai ihram, kesalahan yang mungkin banyak terjadi adalah, jama'ah yang berniat langsung ke mekah, tapi memakai ihram di bandara di Jeddah, dan Pilot kemudian mengumumkan bahwa sudah mendekati Qarnul-Manazil, sehingga yang sudah berihram meyiapkan diri untuk berniat, dan berlakulah segala pantangan selama ber-ihram, karena tujuan pertama kami dan banyak jama'ah lainnya adalah ke madinah, maka kami tidak perlu ber-ihram.

Madinah, walau tidak ada satupun rukun umroh dilakukan disana, menjadi tempat yang seperti wajib disinggahi dan di zarahi jama'ah yang melakukan umroh, karena sejarah peradaban Islam dan keistimewaan lainnya.

Tidak beberapa dari itu kemudian pesawat bersiap untuk mendarat, bagi saya dan istri yang baru pertama kali melakukan umroh sangat takjub sekali melihat langit yang terang akibat pantulan cahaya kota di sekitar Jeddah yang sangat terang, sedikit terbesit dalam hati, karena Arab Saudi berupa penghasil energi berupa minyak sehingga mampu menyebarkan energi tersebut untuk menerangi malam, hal yang aneh terjadi di Balikpapan, Indonesia tercinta, walaupun penghasil minyak dan batubara, daerah tersebut sampai sekarang masih sering pemadalam listrik bergilir, wallahua'lam.

IMG 5401
Suasana diluar pesawat sebelum mendarat

Alhamdulillah, pesawat mendarat dengan baik dan kemudian menuju area parkir, kami mendara di terminal Haji. Dan setelah berhenti sempurna, penumpang diijinkan untuk keluar pesawat melalui garbarata, setelah keluar dari pesawat, kami tidak langsung menuju imigrasi melainkan dikumpulkan di ruangan tunggu, sembari menunggu giliran untuk ke imigrasi. Saya pun menggunakan kesempatan tersebut untuk sholat Maghrib dan Isya, buat pembaca, ga usah misuh-misuh ketika masuk toilet di Jeddah, jangan dibayangkan akan sebersih toilet di bandara di negara kita tercinta (walau saya tahu toilet di negara kita ga bersih juga, setidaknya pembaca bisa membayangkan lah yah, hehe), karena niat nya ibadah, bersabar aja, mungkin karena kami mendarat di jam 18:30 waktu setempat, para pekerjanya sudah pulang, sehingga kamar mandinya seperti tidak dibersihkan. Buat yang haus di dalam toilet tersebut disediakan air siap minum, jadi yang haus bisa minum sepuasnya. Setelah sholat, saya pun akhirnya mengabari orang tua dan juga mertua, walaupun sudah pukul 11 malam di Medan, tapi mereka ternyata belum tidur, menanti kabar dari kami. Kami pun membeli sim card yang di ditawarkan oleh pekerja di bandara disana, seharga SAR30, setelah selesai memberi kabar ke orang tua, kemudian menelpon Mahruz, orang yang akan mengurusi kami selama di Madinah, Mahruz ini adalah orang Indonesia yang mukim di Madinah.

Selama proses menunggu ini saya kemudian mencar tour leader jama'ah di Malaysia, untuk apa? Ya karena kami hanya berdua, jadinya kami berharap jika bisa untuk nebeng ke Madinah dari Jeddah, maklum jika naik taxi dari Jeddah ke Madinah, bisa memakan biaya SAR600, jadi kalau bisa nebeng dan bayar lebih murah kenapa tidak, dan saya mencoba approaching ke salah satu Tour Leadernya atau merangkap muthowwif, bagaimana caranya mengetahui bahwa dia sebagai tour leader? Tampilannya pasti berbeda, biasanya tour leader akan menggunakn rompi khusus atau terlihat paling sibuk yang mengatur-ngatur jama'ahnya. Alhamdulillah dari hasil perbincangan dengan beliau, beliau bersedia membantu asalkan masih ada seat kosong di bus.

Pukul 20:00, kami dipersilahkan keluar dari ruang tunggu dan menuju counter imigrasi, baru pertama kali ini saya lihat lautan manusia membanjiri counter imigrasi, jadi di Jeddah ini, masuk ke imigrasi disesuaikan per negara, untuk kami dari Malaysia kebagian 6 counter yang berdekatan, didepan kami masih ada sisa jama'ah dari Sri Lanka yang masih tertahan di imigrasi. Perlu diketahui, antri di imigrasi Saudi merupakan ujian mental tingkat tinggi, bagaimana bisa? Karena sistem infomasi komputernya sangat-sangat lelet, ditambah lagi pihak imigrasi mewajibkan untuk pengambilan photo, sehingga untuk 1 orang bisa memakan waktu 10 bahkan sampai 15 menit, bayangkan saja, jika didepan kita ada antrian sebanyak 30 orang, berarti kita harus menunggu hinga 450 menit atau 7,5 jam! Mungkin karena niatan ibadah, tak banyak dari jama'ah yang mengantri ini yang misuh-misuh, semua tetap tenang, ada juga beberapa yang ngomel-ngomel, tapi petugas imigrasinya cukup awas dan galak, sesiapa yang ngomel-ngomel atau malah selfie di antrian yang panjang tersebut pasti akan didatangi, seperti salah satu jama'ah asal Malaysia yang antri persis didepan kami, mereka wefie sekeluarga dan didatangi pihak imigrasi dan hasil photo tersebut disuruh untuk dihapus.

Kebetulan antrian di depan kami hanya 10 orang, sehingga praktis kami menunggu 1 jam lebih, sungguh ini lah proses imigrasi yang paling lambat selama saya jalan-jalan ke luar negeri. Untungnya untuk penumpang yang berkebutuhan khusus dan orang tua akan diizinkan terlebih dahulu. Setelah proses di imigrasi selesai, kemudian saya bersama istri mengambil barang-barang kami dari bagasi, barang-barang tersebut sudah di turunkan dan di tata rapi, tidak lagi berputar-putar di conveyor belt. Dalam perjalanan keluar dari dalam bandara, kami menemukan jama'ah asal Palembang, kami pikir, mana tau kami bisa menumpang di bus mereka, apalagi karena sesama pemegang passport hijau, jika Allah berkehendak, mereka pastilah mau membantu, setelah saya bicara dengan tour leadernya, ternyata jawabannya tidak sesuai dengan apa yang di inginkan, mereka berdalih bahwa bus yang mereka tumpangi sudah full, kemudian saya ketermu lagi jama'ah dari Jakarta, sama saja mereka berdalih sudah full, dan kemudian saya ketemu juga jama'ah dari First Travel, singkat cerita sama juga, sudah full. Nah inilah cobaan berikutnya yang saya hadapi.

Setelah meminta tolong yang ujungnya kandas, akhirnya saya mencari taxi, tapi setelah keluar melihat-lihat, tidak ada satupun yang menawarkan taxi ke saya, biasanya ada taxi-taxi gelap yang akan menawarkan, mungkin berhubung sudah jam 11 malam, jadi mereka sudah tidak beroperasi lagi, tour leader asal Malaysia tadi juga tidak kelihatan batang hidungnya, mungkin beliau sedang sibuk mengurus jama'ahnya di dalam bandara. Akhirnya saya menelepon Mahruz dan menceritakan kondisi saya, kemudian dia menyuruh menyambungkan saya dengan orang Arab disekitar saya dengan tujuan orang arab tersebut mencarikan saya taxi dengan tujuan Madinah. Mereka berbincang agak panjang, kemudian sang Arab tersebut mengembalikan handphone saya, kemudian pergi keluar mencari taxi. Istri saya sendiri sudah terlihat sangat letih, dan meminta saya agar segera mencari cara agar secepat mungkin keluar dari bandara, saya maklum dengan kondisinya, secara fisik, walaupun masih jam 11 malam di Jeddah, tapi tubuh ini merasakan sudah jam 3 pagi versi WIB, beda antara waktu Saudi dengan WIB terpaut 4 jam lebih lambat. Akhirnya sang Arab datang menemui dan meminta disambungkan lagi dengan Mahruz, kemudian setelah mereka selesai berbincang-bincang, handphone dikembalikan lagi ke saya, dan saya menanyakan apa yang mereka bicarakan, Mahruz mengatakan kalau taxi disana meminta biaya sebesar SAR900 untuk ke Madinah, mungkin karena sudah tengah malam jadi mereka seenak hati menaikkan harga, kemudian Mahruz berujar kalau temannya sedang ada disekitar bandara Jeddah menunggu jama'ahnya, saya diminta untuk (bagaimanapun caranya) keluar bandara dan bertemu temannya tersebut, Mahruz kemudian memberikan nomor handphone dan kemudian saya menghubungi teman Mahruz tersebut, namanya adalah Mukhlis, beliau juga WNI yang mukim di Mekah yang kebetulan sedang menunggu jama'ahnya datang. Kemudian beliau meminta disambungkan ke salah satu orang Arab disekitar saya, yang kemudian orang Arab tersebut mengajak saya menemui seseorang, istri karena sudah terlihat sangat-sangat lelah, saya suruh tetap menunggu di area tempat Jama'ah Malaysia dan Indonesia dikumpulkan (jadi diluar bandar Jeddah ini ada area-area khusus untuk menunggu, biasanya muassasah yang akan mengatur jama'ah-jama'ah sesuai negaranya, dan kemudian didata, Indonesia dan Malaysia di gabung di satu area yang sama, entah kenapa saat kami disana, kami sama sekali tidak menemukan muassasah yang meminta data-data kami). Kemudian saya bertemu dengan salah satu Arab yang lain, dan hasil dari perbincangan tersebut menurut Mukhlis, salah satu orang Arab tersebut bisa mengantarkan saya keluar bandara dan bertemu dengan Mukhlis di luar, dengan biaya SAR100, walau menurut saya tidak masuk akal, tapi melihat istri yang sudah super lelah, saya pun meng-iya kan. Oh iya perlu diketahui, tidak sembarang orang yang boleh keluar area bandara, sebenarnya ada angkutan khusus untuk keluar dari bandara, namun karena sudah tengah malam angkutan itu berhenti ber-operasi, dan juga tidak sembarang kendaraan bisa masuk ke terminal Haji, dan jika mencoba-coba melanggar maka akan didenda, oleh karena itu kami menggunakan jasa orang Arab tersebut untuk keluar dari bandara, tidak jauh dari Bandara, bertemulah saya dengan Mukhlis. Setelah saya tau beliau lebih tua dari saya, kemudian saya sapa beliau dengan Bapak, tidak begitu tua orangnya, mungkin terpaut 5-8 tahun dari saya, beliau sudah 12 tahun katanya menetap di Mekah, saya dan istri di persilakan masuk ke dalam mobilnya, di dalam sedang ada istri dan anaknya yang paling kecil, istri beliau juga orang Indonesia yang lahir di Mekah. Beliau ini sedang menunggu jama'ahnya datang, yang akhirnya saya ketahui jama'ahnya tersebut sama juga seperti saya, umroh backpacker-an, jama'ahnya masih tertahan di bandara, karena proses imigrasi yang sangat lama. Setelah tau keadaan saya, beliau mencoba melobi beberapa bus yang bersiap untuk berangkat, mana tau kami yang hanya 2 orang ini diberikan tumpangan, lagi-lagi kami ditolak, padahal kami lihat masih ada slot kosong di bus, setelah saya menanyakan ke Pak Mukhlis, kenapa mereka kok cenderung ogah memberikan kursinya kepada kami, padahal kami juga mau membayar dan kita sesama pemegang passport hijau. Menurut Mukhlis, itu wajar, karena nanti di perbatasan menuju Madinah akan ada pemeriksaan oleh muassasah, dan jika jumlah di manifest berlebih dengan jumlah orang di dalam bus, maka akan jadi masalah. Padahal, menurut pengakuan Pak Mukhlis yang malang melintang di bidanga per-Umroha-an, Muassasah tidak akan pernah menghitung secara detil, dan biasanya juga ketika beliau mengambil jama'ah yang banyak dan masih terseisa slot kosong di bus, jika ada yang menumpang, pasti akan di berikan tumpangan. Wallahua'lam. Beliau juga memberikan ide untuk mengantarkan kami ke Saptco (bus resmi Saudi) yang bisa mengantarkan kami ke Madinah. Masalahnya adalah sudah jam 2 pagi, sedang bus saptco berhenti beroperasi jam 12 malam, dan kembali beroperasi jam 5 pagi. Jadilah kami menunggu sampai jama'ah pak Mukhlis keluar, mereka kelihatan sering saling bertelepon menanyakan posisi. Akhirnya Pak Mukhlis menanyakan apakah kami mau untuk ikut naik kendaraan dengan mereka dan sharing cost? Saya sudah sangat pasti meng-iyakan, beliau menawarkan SAR100 per-orang, jadi total SAR200, saya tidak ada masalah, yang penting bisa secepat mungkin sampai di Madinah. Lebih dari 2 jam saya menunggu sampai jama'ah Pak Mukhlis datang, jam sudah menunjukkan pukul 04:00, kemudian datanglah jama'ah pak Mukhlis dengan menggunakan kendaraan GMC (seperti Opel Blazer tapi jauh lebih besar), yang akhirnya saya ketahui dia bernegosiasi dengan Muassasah yang memiliki kendaraan GMC tersebut, total jamaa'ah Pak Mukhlis tersebut ada 6 orang, yang semuanya sekeluarga, setelah berkenalan, Beliau bernama Pak Ali yang membawa mertuanya, 3 anak perempuannya dan istrinya, ternyata jama'ah tersebut adalah senior Pak Mukhlis saat di Pesantren dulu. Alhamdulillah wa sykurillah, akhirnya kami bersiap berlpeas menuju Madinah Al Munawaroh, Untuk kendaraaan GMC ini karena cukup besar sehingga saya tidak merasakan terlalu sempit walau di bagian tengah diisi 4 orang. Karena sudah terdengar Adzan subuh kami pun singgah di mesjid di rest area di jalan tol yang kami lewati. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjama'ah, kemudian kami pun bergegas menuju Madinah, jarak yang kami tempuh dari Jeddah ke Madinah sekita 500km, dan sepanjang itu kami melewati jalan tol yang sangat luas, kalau saya tidak salah ingat satu jalur memiliki 4 lajur, kareana di Saudi kendaraan stir kiri, makan kami berada di jalur kanan, Jalan tol tersebut disediakan gratis oleh pemerintah Arab Saudi. dan jangan kaget dengan kecepatan kendaraan disana. Kecepatan kendaraan kami sendiri paling tidak 140km/jam, dan terasa biasa saja bagi kami, karena jalanannya yang rata dan super mulus. MasyaAllah keren juga pemerintahan Saudi. Tidak banyak pemandangan yang kami lihat sepanjang perjalanan selain padang tandus dan gunung-gunung batu yang selalu tertulis kalimat Allah dalam tulisan arab di setiap gunungnya. dua kali kami berhenti untuk buang air kecil dan mengisi bahan bakar, bahan bakar di Saudi sendiri harganya sunggu mudah, lebih murah dari air mineral kapasital 600ml seharga SAR1, 1 liter bensin di hargai sekitar SAR0,6 dan solar lebih murah lagi hanya 0,45 kalau saya tidak salah ingat disaat itu.

IMG 5409
Pemandangan sepanjang jalan menuju Madinah

Akhirnya, sekitar jam 13:00 waktu Madinah, kami sampai di Madinah, pertama mobil menuju ke Hotel Pak Ali, yang tidak jauh dari Mesjid Nabawi, dan menurunkan beliau, kemudian menuju hotel kami, Al-Shourfah New Madinah, yang tidak jauh juga dari Mesjid Nabawi yang berjarak sekitar 200m dari Mesjid, Alhamdulillah akhirnya kami menginjakkan kaki di Mesjid Nabi. Setelah sholat dan istirahat, kami pun berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel sembari menunggu adzan Ashar dan akhirnya saya dan istri menuju mesjid Nabawi untuk menunaikan ibadah sholat Ashar, takjub rasanya hati ini, berkesempatan untuk merasakan sholat di mesjid Nabawi dalam salah satu hadist dituliskan.

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Kemudian setelah selesai sholat Ashar, saya mengunjungi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampingnya ada makam Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhum. Makam Rasul

Makam Rasulullah Sallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash Siddiq dan Umar Radhiyallahu 'anhum.

Setelah selesai melaksanakan sholat Ashar kami pun sempat berkeliling masjid Nabawi dan menyaksikan betapa megah dan indahnya mesjid Nabawi ini, dan indahnya senja di pelataran mesjid. Suhu di Madinah saat itu cukup dingin, kalau melihat di handphone senja itu bertemperatur sekitar 12 derajat celcius.

Senja di Nabawi
Senja di Nabawi

Kami menunggu adzan Maghrib kemudian dilanjutkan Isya, dan setelah itu kembali ke hotel menikmati rendang dan ikan teri, dan nasi yang dimasak istri, oh indahnya ibadah ini, semoga Allah menyempurnakan ibadah kami. آمينَ. Sampai disini dulu kisah di Part 3. di Part berikutnya saya akan bercerita tentang ziarah ke Rhaudah, Makam Baqi, Mesjid Quba, Museum Kereta Api dll. yang pastinya lebih seru, tetap ikutin cerita kami.

lanjut ke part 4

Publisher: Fadlan Sinaga - 12:16 AM